
Daftar isi: [Hide]
MADINAH,– Kisah inspiratif datang dari jemaah haji Indonesia gelombang pertama di Madinah. Jumaria, seorang nenek berusia 70 tahun asal Kuru Sumange, Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Nenek Jumaria, yang sehari-harinya bekerja sebagai petani dan hidup sebatang kara, akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Tanah Suci setelah perjuangan panjang menabung selama puluhan tahun.
Tabungan Rahasia di Bawah Kasur
Cara Nenek Jumaria mengumpulkan biaya haji tergolong sangat sederhana namun konsisten. Setiap kali mendapatkan upah dari bertani atau hasil panen, ia menyisihkan sebagian uangnya untuk dimasukkan ke dalam sebuah ember plastik. Ember tersebut ia sembunyikan rapat-rapat di bawah tempat tidurnya agar tidak terpakai untuk kebutuhan lain.
“Saya simpan di ember bawah kasur. Sedikit demi sedikit, bertahun-tahun. Biar susah makan, saya tidak mau ambil itu uang karena niatnya memang untuk haji,” ujar Jumaria dengan mata berkaca-kaca saat ditemui tim Media Center Haji di Madinah, Senin (11/5/2026).
Sehat dan Mandiri di Usia Senja
Meski masuk dalam kategori jemaah lansia, Nenek Jumaria menunjukkan kondisi fisik yang luar biasa bugar. Selama berada di Madinah, ia terlihat mandiri dan jarang mengeluh kelelahan saat menjalankan ibadah Arbain di Masjid Nabawi.
Keteguhan hatinya mendapat apresiasi dari rekan-rekan sesama rombongan di Kloter 14 Embarkasi Makassar (UPG). Marwati, salah satu jemaah serombongan, mengaku terinspirasi oleh sosok Jumaria. “Beliau adalah bukti nyata dari kekuatan niat. Kami yang lebih muda malu kalau tidak semangat seperti beliau,” tuturnya.
Kisah Nenek Jumaria kini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa keberangkatan haji adalah panggilan hati. Dengan ketulusan, kegigihan, dan doa yang tak putus, jalan menuju Baitullah akan selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh.








