
GARUT – Para petani di kawasan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tengah menghadapi masa sulit akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi selama tiga bulan terakhir menyebabkan berbagai komoditas pertanian seperti cabai, tomat, pakcoy, hingga padi mengalami pembusukan sebelum masa panen tiba.
Anomali cuaca ini membuat hasil pertanian sulit diprediksi. Ote, salah seorang petani setempat, menuturkan bahwa tanaman palawija yang ia tanam tidak mampu berkembang maksimal karena kondisi lahan yang terlalu lembap.
“Kejadian ini sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Tanaman membusuk dan tidak bisa dipanen. Mau diobati juga biayanya mahal, kami tidak sanggup beli obat-obatannya,” keluh Ote saat ditemui di lahannya, Senin (20/4).

Kerugian ini membuat sebagian petani ragu untuk kembali bercocok tanam karena tingginya risiko kegagalan. Selain faktor cuaca, mahalnya harga pupuk dan pestisida menjadi beban tambahan yang mencekik para petani kecil.
Masyarakat tani di Garut kini sangat mengharapkan adanya langkah nyata dari Dinas Pertanian, baik berupa pemberian subsidi obat-obatan pertanian maupun pendampingan teknis untuk menghadapi dampak perubahan iklim agar kerugian tidak semakin meluas.








