BANDUNG,– Para pelaku usaha mikro di sektor kuliner kaki lima di Kota Bandung mulai merasakan dampak serius dari gejolak harga bahan baku. Pedagang cimol, salah satu kudapan khas yang populer, kini harus berjuang ekstra keras akibat kenaikan harga minyak goreng dan plastik yang terjadi secara bersamaan.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (21/4/2026), para pedagang mengeluhkan sulitnya mendapatkan Minyakita, minyak goreng program pemerintah yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu dan pedagang kecil.

Harga Jauh di Atas HET

Uung, salah seorang pedagang cimol, mengungkapkan bahwa harga Minyakita di tingkat pengecer saat ini mencapai Rp22.000 per liter. Padahal, beberapa waktu lalu harganya masih berada di kisaran Rp18.500.

“Naiknya sudah terasa sejak mau Lebaran kemarin, tapi sampai sekarang tidak turun-turun. Minyak itu bahan utama buat goreng, kalau mahal begini ya modal kami habis di sana,” ujar Uung dengan nada lesu.

Beban Ganda dari Harga Plastik

Selain minyak, kenaikan harga plastik kempasan juga memperparah kondisi keuangan para pedagang. Mengingat cimol umumnya dijual dalam porsi kecil dengan pembungkus plastik, biaya variabel ini kini sangat membebani margin keuntungan yang sudah sangat tipis.

Kondisi ini menciptakan kekhawatiran akan keberlangsungan usaha mereka. Jika harga terus melambung, banyak pedagang terpaksa mengurangi porsi atau bahkan berhenti berjualan sementara waktu.

Masyarakat dan pedagang kini mendesak pemerintah daerah maupun pusat untuk segera melakukan intervensi pasar guna memastikan ketersediaan stok Minyakita sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) serta menstabilkan harga material kemasan di pasaran.

READ  Imbas Ketegangan Global, Gubernur Dedi Mulyadi Tunda Pemberlakuan Pajak Kendaraan Listrik di Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
infoinnews.id

Live Search