BANDUNG, – Masyarakat Kota Bandung kembali dihadapkan pada kenaikan harga energi. Sejak 18 April 2026, harga jual Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi kemasan 5,5 kg dan 12 kg resmi mengalami penyesuaian naik di tingkat agen dan pengecer.

Kenaikan harga ini diikuti dengan kendala pasokan yang mulai dirasakan sejak satu minggu sebelum bulan Ramadan. Banyak agen di Kota Bandung kini mengeluhkan berkurangnya jatah kiriman dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE).

Rincian Kenaikan Harga

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (21/4/2026), kenaikan harga tercatat sebagai berikut:

LPG 5,5 kg (Bright Gas): Naik Rp17.000, dari harga semula Rp90.000 menjadi Rp107.000 per tabung.

LPG 12 kg: Naik Rp36.000, dari harga semula Rp192.000 menjadi Rp228.000 per tabung.

Stok di Agen Terjun Bebas

Rizky Kurmana, seorang pegawai agen gas di Bandung, menyebutkan bahwa frekuensi pengiriman dari SPBE menurun drastis dari 4 kali sehari menjadi hanya 1-2 kali saja.

“Stok Gas 12 kg yang biasanya tersedia 600 hingga 700 tabung, sekarang di bawah 200 tabung per hari. Untuk yang 5 kg juga sama, dari 200 tabung kini tidak sampai 100. Kami terpaksa membatasi pembelian karena barangnya memang langka,” ujar Rizky.

Risiko Migrasi ke Gas Melon

Kelangkaan dan tingginya harga gas non-subsidi ini menimbulkan kekhawatiran baru bagi pemerintah dan pengamat ekonomi. Kondisi ini diprediksi akan mendorong konsumen menengah ke atas untuk beralih menggunakan LPG 3 kg (subsidi).

Jika migrasi ini terjadi secara masif, dikhawatirkan akan terjadi kelangkaan gas melon di Kota Bandung, yang pada akhirnya akan membebani masyarakat prasejahtera sebagai sasaran utama subsidi gas.

READ  Dapat Kompensasi Rp1,4 juta, Penarik Becak di Cirebon Siap Patuhi Arahan Gubernur Jabar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
infoinnews.id

Live Search