SUKABUMI,— Seni bela diri tradisional asli Indonesia, pencak silat, terbukti kian melebarkan sayapnya di panggung internasional. Hal ini terlihat nyata dalam perhelatan akbar bertajuk “Sunda Camp” yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Dzikir Al Fath, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2026).

Ajang tahunan yang mempertemukan ratusan pesilat dari berbagai penjuru tanah air itu mendadak riuh dan menyita perhatian publik berkat kehadiran delegasi luar negeri. Sebanyak 16 orang pesilat berkebangsaan Italia turut ambil bagian dan memperlihatkan kemahiran mereka di hadapan para penonton.

Mengenakan pakaian pangsi hitam khas pesilat, tim asal negeri piza tersebut tampil memukau saat memperagakan Pencak Silat Aliran Sera. Gerakan taktis yang tegas, lincah, serta penuh penghayatan ditunjukkan secara kompak, menandakan proses latihan disiplin yang matang selama bertahun-tahun. Malahan, beberapa pesilat asing tersebut juga tampak terampil menabuh instrumen musik tradisional sebagai pengiring gerakan jurus rekan-rekannya.

Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Al Fath sekaligus Guru Besar Aliran Sang Maung Bodas, KH Fajar Laksana, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme komunitas bela diri internasional tersebut.

“Sunda Camp ini didesain sebagai ruang hulu ke hilir untuk saling berbagi pengetahuan taktik dan memperkenalkan keragaman pencak silat nusantara. Kehadiran para pesilat dari Italia ini membuktikan bahwa nilai-nilai kebudayaan kita dihargai sangat tinggi di Eropa,” papar Fajar Laksana, Sabtu.

Bela Diri yang Membentuk Jiwa dan Spiritual

Salah seorang pesilat senior asal Italia, Massimiliano Morandini, membagikan kisah kedekatannya dengan olahraga beladiri asal Indonesia ini. Morandini mengaku telah mendedikasikan hidupnya untuk menekuni pencak silat sejak puluhan tahun silam.

Bagi Morandini, pencak silat memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki oleh jenis beladiri modern barat lainnya. Ada keterikatan batin dan emosional yang kuat saat mempelajari filosofi silat.

“Pencak silat tidak sekadar mengajari kita bagaimana cara menjatuhkan lawan atau teknik pertarungan fisik semata. Lebih dalam dari itu, silat mengajarkan kami cara membentuk karakter, kedamaian jiwa, serta membangun nilai spiritual yang kuat dalam menjalani kehidupan,” kata Massimiliano Morandini dengan menggunakan bahasa penjiwaan.

Morandini menambahkan, sekembalinya ke Benua Biru, dirinya berkomitmen untuk terus mengampanyekan pencak silat secara lebih masif. Saat ini ia tengah merajut kerja sama lintas federasi dengan sejumlah pesilat kawakan di Belanda dan Prancis. Ia optimistis, dengan pendekatan kultural yang tepat, pencak silat ke depan tidak hanya akan mendominasi wilayah Asia, melainkan mampu memikat hati masyarakat internasional di seluruh belahan dunia.

READ  PGN Dorong Cirebon Beralih ke Energi Bersih, GasKita Siap Jangkau Ribuan Rumah Tangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
infoinnews.id

Live Search